Hampir Sepekan Serbu Pantai Israel, Warga Palestina Manfaatkan di Pagar Perbatasan

- 12 Agustus 2020, 16:20 WIB
Sudah hampir sepekan ribuan warga Palestina masuk Israel lewat lubang pagar di perbatasan untuk pergi ke pantai, Tentara Penjaga tidak memberikan komentar. /

JAKSELNEWS.COM - Ribuan warga Palestina menyeberang ke Israel secara ilegal sejak Hari Raya Idul Adha 1441 H/2020 M lalu.

Dengan memanfaatkan lubang pagar di perbatasan, ribuan warga Palestina diketahui hendak pergi ke pantai di Israel. Sejauh ini tidak ada upaya dari otoritas Israel untuk mencegah hal tersebut meski sudah terjadi hampir sepekan.

Metode baru ini pun cepat tersebar di sepanjang Tepi Barat. 

Dilansir dari Times of Israel pada Selasa 11 Agustus 2020, warga Palestina menjalani libur singkat bersama keluarga dengan layanan transportasi ke beberapa titik dan berbagai kota di Israel menggunakan sopir Arab Israel.

“Anak-anak saya belum pernah melihat laut,” kata Siham, ibu dari lima anak.

Baca juga: Perempuan Keturunan Asia Kamala Harris Digaet Joe Biden Jadi Calon Wapres

“Bagi mereka, ini seperti mereka tiba di atraksi paling penting di dunia. Menyentuh air asin dan bermain di pasir adalah atraksi terbaik dan termurah yang bisa saya tawarkan kepada anak-anak saya," sambungnya, sebagaimana dikutip pikiran-rakyat.com dalam artikel Hampir Sepekan Ribuan Warga Palestina Masuk Israel Lewat Lubang di Perbatasan untuk Pergi ke Pantai.

Kota Jaffa menjadi destinasi utama sebagian besar keluarga Palestina. Sebagian lainnya pergi ke kota Herzliya, Haifa, Netanya, serta kota-kota lain.

Bayaran yang dikeluarkan oleh mereka antara 20 dan 35 Shekel (Rp 86.813 - Rp151.924) untuk transportasi. Ransel, makanan, mainan tiup air adalah barang bawaan yang bisanya mereka bawa.

Baca juga: Selandia Baru Lockdown Kota Terbesar Setelah 100 Hari Bebas Transmisi Lokal, Apa Yang Terjadi?

Sampai saat ini, tidak ada tindakan apapun dari militer Israel meski kebiasaan tersebut sudah benar-benar diketahui pemerintah.

“Para prajurit tidak peduli. Mereka bisa menghentikannya dalam sekejap," ungkap seorang pria Palestina kepada reporter Channel 13 Haaretz.


Keterangan lain dari Aref Shaaban, seorang petugas yang mengatur transportasi di Jaffa dan Herzliya bahkan menyebutkan tentara Israel turut membantu orang Palestina untuk menyeberang.

"Tentara melihat mereka adalah keluarga dengan bola pantai dan kantong makanan, bukan granat," paparnya.

Beberapa warga Palestina mengaku dibantu oleh jip militer Israel yang menyalakan lampunya di malam hari. Meski Pasukan Pertahanan Israel menolak berkomentar, banyak kutipan yang menyebutkan bahwa warga Palestina tidak pernah merasa terancam baik di titik penyeberangan atau kota-kota di Israel.

Komentar lain datang dari seorang penduduk daerah Nablus yang membantu mengatur transportasi. Menurutnya pembiaran Otoritas Israel ini justru merusak Otoritas Palestina (PA) karena tak ada koordinasi.

"Pemerintah Palestina memberlakukan penguncian (virus korona) dan Israel mungkin ingin menerima ribuan warga Palestina dan menunjukkan kepada PA bahwa mereka tidak mengontrol apa pun," katanya.

Hal ini dibenarkan oleh salah seorang pejabat PA yang tidak disebutkan namanya bahwa Israel seolah ingin menunjukkan bisa membiarkan penduduk sipil masuk tanpa berkoordinasi dengan PA.

“Selain itu, daripada orang-orang Palestina yang berlibur di Tepi Barat dan membayar uang di sana, mereka lebih memilih uang tersebut berada di Israel, meskipun jumlahnya tidak besar,” pungkasnya.***

Editor: Husain F.P

Sumber: Pikiran Rakyat


Tags

Komentar

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X