Pernah Moncer Sebagai Pengembang Properti Top di Tiongkok, Evergrande Kini Terlilit Hutang

- 8 Desember 2021, 15:39 WIB
Evergrande Alami Gagal Bayar dan Terlilit Hutang Senilau Rp.4.313 Triliun.*/Reuters/Bobby Yip
Evergrande Alami Gagal Bayar dan Terlilit Hutang Senilau Rp.4.313 Triliun.*/Reuters/Bobby Yip /Reuters/Bobby Yip

JAKSELNEWS.COM - Evergrande Group, perusahaan properti asal Tiongkok saat ini dilaporkan tengah terlilit hutang dan tak mampu membayar.

Sebagaimana diketahui, Evergrande saat ini telah melewatkan batas waktu pembayaran pada beberapa pemegang obligasi.

Saat ini, Evergrande memasuki masa tenggang dalam kurung waktu selama sebulan.

Ironis, dahulu Evergrande sempat berjaya dan menjadi pengembang properti paling moncer di Tiongkok.

Baca Juga: Meta Digugat Rp2,2 Triliun karena Dituduh Menyebarluaskan Ujaran Kebancian Anti Rohingnya

Dilansir JAKSELNEWS.COM dari ABC News, Evergrande pernah menjadi pengembang properti top di Tiongkok, dengan lebih 1.300 proyek real estate.

Total utang dan kewajiban lain yang ditanggung oleh Evergrande itu diperkirakan menyentuh $300 miliar atau sekira Rp4.313 triliun.

Adapun hutang Evergrande itu disebabkan karena krisis properti yang menimpa Tiongkok dan kolapsnya sejumlah perusahaan.

Efek domino yang dirasakan oleh Evergrande berimbas pada harga saham perusahaan holding properti tersebut.

Baca Juga: Jadwal Pelayanan SIM Keliling DKI Jakarta Hari Ini, 8 Desember 2021: Buka Sampai Pukul 14.00 WIB

Pada Senin, 6 Desember 2021, saham Evergrande Group anjlok tajam sebesar dua puluh persen.

Tetapi, beberapa hari lalu, saham perusahaan properti itu mengalami kenaikan sebesar 1,1 persen.

Tumbangnya saham Evergrande dianalisis oleh Kepala strategi valuta asing NAB, Ray Attrill.

Attrill mengatakan bahwa pasar saat ini sedang bereaksi terhadap kabar gagal bayar oleh Evergrande.

Menurutnya, tenggat waktu yang dilewatkan oleh Evergrande justru memicu gelombang cross-default.

Oliver Allen dari Capital Economics memberikan pendapatnya tentang masalah hutang dan gagal bayar yang dialami oleh Evergrande.

Allen menuliskan bahwa investor seharusnya tidak terlalu mengharapkan pemerintah Tiongkok untuk kembali melakukan bubble properti di negara itu.

Ia menambahkan, masalah yang dihadapi Evergrande tidah hanya mencakup pasar saham Tiongkok.

Akan tetapi berkaitan pula dengan industri logam, diamana indeks ekuitas di seluruh pasar negara berkembang sehingga produsen komoditas memiliki bobot besar.***

Editor: Henoch Tegar Prakoso

Sumber: ABC News


Tags

Artikel Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah

x